Bekal ilmu sebelum beramal

0
387

Sumber: Muhammad Abduh Tuasikal, Panduan Ramadhan Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah, Pustaka Muslim, 2014

Puasa memiliki keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Untuk memasuki bulan yang mulia ini, tentu kita harus punya persiapan yang matang. Bekal utama yang mesti ada adalah bekal ilmu.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

العَامِلُ بِلاَ عِلْمٍ كَالسَّائِرِ بِلاَ دَلِيلٍ؛ وَمَعْلُومٌ أنَّ عَطَبَ مِثْلِ هَذَا أَقْرَبُ مِنْ سَلاَمَتِهِ، وَأنَّ قُدِّرَ سلَاَمَتُهُ اِتِّفَاقًا نَادِرًا فَهُوَ غَيرُ مَحْمُودٍ، بَلْ مَذْمُومٌ عِنْدَ العُقَلاَءِ

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْلَ ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ

“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia akan tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَ غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُاكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا تَضُرُّوْا بِاالعِباَدةَ وَاطلْبُوُْاا لعِباَدةَ طلَبَاً لاتَضَُرُّوْا بِاالْعِلْمِ فإِنَّ قَوْماً طَلَبُوْالعِبَادَةَ ووَتَرَكُوا العِلْمَ

“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan lmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.” [1]

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,

مَنْ عَبَدَ بِغَيرِ عِلْمٍ كَانَ مَايُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمّا يُصْلِحُ

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” [2]

Amalan yang bisa diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Sifat takwa hanya bisa diraih dengan belajar agama. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَُّه مِنَ الْمُتَّقِينَ

«Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.» (QS. Al Maidah: 27).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja ini hanya didasari dengan ilmu.” [3]

Ulama hadits terkemuka, yakni Imam Bukhari membuat bab dalam kitab shahihnya “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah Ta’ala,

فَاغْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَه إِلَّا اللَُّه وَاسْتَعْفِرْ لَِنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan surat Muhammad ayat 19 untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’, bahwa Sufyan membaca ayat (yang artinya), “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”, lalu
beliau mengatakan,

أَلَمْ تَسْمَع أَنَّهُ بَدَأَ بِهِ فَقَالَ : “اِعْلَمْ” ثُمَّ أَمَرَهُ بِالْعَمَلِ ؟

“Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” [4]

Ibnul Munir rahimahullah menjelaskan maksud Imam Bukhari di atas,

أرَاَد شَ بهِ أِنَاَّ لعْلِمْ شَرطْ فِ صِحَّةَ القَوْلُ وَالْعَمَل، ف لَا يُعْتَبَرانِ إلَّا بهِ، فهَوُ مُتَقَدِّم عَلَيْهِماَ لِأنَّهُ
مُصَحِّح  لِلنّيَِّةِ الْمُصَحِّحَة لِلْعَمَلِ

“Yang dimaksudkan oleh Imam Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan. Ingatlah
bahwa ilmu itu pelurus niat dan yang akan memperbaiki amalan.” [5]

Mu’adz bin Jabal berkata,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang ilmu.”[6]

Ibnu Taimiyah berkata, “Niat dan amalan jika tidak didasari dengan ilmu, maka yang ada hanyalah kebodohan dan kesesatan, serta memperturut hawa nafsu. Itulah beda antara orang Jahiliyah dan seorang muslim.”[7]

Mengapa kita mesti belajar sebelum beramal?
Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”[8]

Ilmu apa saja yang mesti disiapkan sebelum Ramadhan menghampiri kita?

Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fithri, begitu pula setelahnya.

  1. Lihat Miftah Daris Sa’adah, 1: 299-300.
  2. Majmu’ Al Fatawa, 2: 282.
  3. Miftah Daris Sa’adah, 1: 299.
  4. Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 1: 160.
  5. Idem.
  6. Majmu’ Al Fatawa, 28: 136.
  7. Idem.
  8. HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik. Hadits ini hasan karena berbagai
    penguatnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Hadits ini
    diriwayatkan dari beberapa sahabat di antaranya Anas bin Malik, ‘Abdullah bin
    Mas’ud, Abu Sa’id Al Khudri, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Ali bin Abi Tholib, dan Jabir.
    Lihat catatan kaki Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1: 69.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.