Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) Polban 2018 ke Pulau Nyamuk

0
1495

Oleh : Zian Nur Fauzi

Salam Ekspedisi!

Selalu ada kisah indah dibalik perpisahan yang mengharukan. Itulah yang terjadi pada kami yang berkesempatan menjadi ekspeditor dalam rangkaian program Ekspedisi Nusantara Jaya Politeknik Negeri Bandung 2018. Semua ini bukan hanya sekedar tulisan tetapi lebih dari itu, ini adalah pengalaman yang berapapun harganya, tak akan terbayarkan.

foto dari Menara Navigasi Pulau Nyamuk

Pulau Nyamuk merupakan salah satu pulau berpenghuni di antara gugus Kepulauan Karimunjawa. Pulau ini termasuk lima pulau berpenghuni dari total 27 pulau yang ada di Karimun. Hal itu berarti 22 pulau lainnya belum berpenghuni. Pada program Kemenko Kemaritiman RI ini, kami ekspeditor Polban yang berjumlah 45 orang berkesempatan untuk mengaplikasikan salah satu tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat. Hal yang menjadi syarat dari Kemenko Kemaritiman RI untuk kami mengabdi adalah diharuskan untuk mengunjungi pulau yang tertinggal, terdepan dan terluar (3T), sehingga kami memutuskan untuk berekspedisi ke Pulau Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten  Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Jika kita dilihat pada peta, Pulau Nyamuk berada di arah utara dari Kota Jepara sekitar 29 km atau sekitar 7 jam perjalanan laut menaiki kapal.


Ekspeditor yang berkesempatan untuk mengabdi ke Pulau Nyamuk berasal dari berbagai jurusan yang berbeda. Dari Jurusan Teknik Mesin diwakili oleh tujuh orang mahasiswa yaitu Saya sendiri, Zian Nur Fauzi dan Imam Adi Kuncoro dari Program Studi D4-Teknik Perancangan dan Konstruksi Mesin, Fikri Milsa Ananda dan Mechael Martioso dai Program Studi D3-Teknik Mesin), Muhammad Alwian Rosyidi dan Rifsqy Fazry Zulyansyah dari Program Studi D4-Proses Manufaktur, serta Raafliansyah Tri Ramadhan dari Program Studi D3-Teknik Aeronautika

Ekspedisi dimulai dari tanggal 20 September sampai 1 Oktober 2018. Total 12 hari kami jalani dengan berbagai rangkaian program dan kegiatan.

KEBERANGKATAN

Kami berangkat dari Polban pada pukul 16.00 WIB hari Kamis, 20 September 2018 dengan menggunakan bis dan tiba di Pelabuhan Jepara pukul 05.30 WIB pagi dihari Jumat. Hal itu sesuai dengan perkiraan waktu karena selanjutnya kami harus bergegas untuk menaiki kapal Ferry Siginjai dari Jepara ke Karimun yang jadwal keberangkatannya tepat pada pukul 06.30 pagi. Dengan kondisi kelelahan karena lamanya perjalanan, persiapan pra-ekspedisi dan barang bawaan yang sangat banyak, waktu 5 jam diatas ferry kami habiskan untuk beristirahat dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Setelah tiba di Karimun pada pukul 11.30 siang, kami melaksanakan Shalat Dzuhur dan makan siang terlebih dahulu.

Sebelum keberangkatan

Sekitar pukul 14.30 kami menaiki dua kapal nelayan untuk meneruskan perjalanan ke Pulau Nyamuk. Kapal ferry besar tidak dapat langsung merapat ke dermaga Pulau Nyamuk karena besar kemungkinan akan menabrak karang jika dipaksakan. Hal itu juga tidak lepas dari kondisi perairan Pulau Nyamuk yang masih amat terjaga terumbu karangnya.

Pelabuhan Kartini, Jepara

Belum apa-apa, kami langsung disuguhi pemandangan air biru tua dan ombak tenang  ditambah dengan matahari senja yang makin lama makin membenamkan diri. Kami pun tiba di Pulau Nyamuk pada sekitar pukul 17.00.

SAMBUTAN MASYARAKAT

Setibanya di Dermaga Pulau Nyamuk, kami disambut oleh beberapa warga yang sudah menunggu. Terlihat raut wajah mereka yang masih canggung bahkan untuk hanya sekedar memberi sapa atau senyum. Kami pun mulai melakukan percakapan-percakapan dan candaan ringan dengan maksud membuat situasi menjadi lebih cair. Sampai akhirnya kami paham bahwa pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang sangat ramah.

potret aktivitas melaut Warga Pulau Nyamuk

Butuh waktu sampai sekitar pukul 22.00 sampai seluruh ekspeditor mendapat rumah singgah. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari dua sampai tiga orang untuk tinggal di rumah-rumah warga yang berkenan. Saya sendiri beserta rekan saya M. Farhan Denisya dititipkan di rumah keluarga Bapak Rosidi yang terdiri dari satu orang istri dan anaknya yang bernama Lailatul Qabliyah.

PROGRAM PENGABDIAN

Untuk menjalankan program di sana, kami membagi ekspeditor ke dalam lima kelompok bidang pengabdian. Bidang-bidang tersebut adalah teknologi, kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif dan sosial lingkungan. Kami dari tim dibidang teknologi melaksanakan tiga program yaitu pembuatan sistem insulasi (seperti cooler box besar) untuk penampungan ikan hasil tangkapan nelayan. Lalu ada pembuatan perangkat tanaman hidroponik dan juga pembagian serta sosialisasi mengenai ice pack, yaitu gel yang dimasukan ke dalam plastik dan memiliki titik beku lebih rendah dari air biasa, sehingga dapat tahan lebih lama untuk mendinginkan ikan dibanding es dari air biasa. Program ini kami lakukan karena mayoritas warga Pulau Nyamuk merupakan nelayan dan kami berharap setidaknya program insulasi dan icepack dapat membantu kegiatan warga di sana. Selain itu juga kami mengenalkan dan membuat sistem tanaman hidroponik, karena di sana pedagang sayur hanya datang seminggu sekali dari Karimun. Seringkali warga berebut untuk mendapatkan sayur sehingga dengan adanya hidroponik, kelak diharapkan warga Pulau Nyamuk setidaknya dapat membudidayakan sendiri sayur-sayuran tersebut.

Pada bidang kesehatan, kami melakukan serangkaian acara cek kesehatan gratis bagi seluruh warga Pulau Nyamuk, senam sehat untuk warga sekaligus minum susu bersama, sosialisasi tentang sikat gigi dan mencuci tangan untuk siswa SD serta sosialisasi tentang hidup sehat bagi seluruh warga. Adapun di bidang pendidikan, kami melakukan pembersihan dan penataan ulang ruang kelas dan perpustakaan Sekolah Dasar Negeri 3 Parang, menyumbangkan buku bacaan ke perpustakaan, perlombaan bagi para siswa SD dan ikut mengajar dalam proses pembelajaran siswa SD yang mana pada pekan itu sedang menjalani Ulangan Tengah Semester (UTS). Beberapa di antara kami pun ada yang menjadi pengawas pada UTS tersebut. Sebagai informasi di Pulau Nyamuk lembaga pendidikan yang ada hanyalah sampai tingkat SD. Jika hendak meneruskan ke jenjang SMP, maka Anak Pulau Nyamuk harus bersekolah di Pulau Karimun atau di Pulau Parang.                

Kami juga berkesempatan untuk menanam bakau yang merupakan bagian dari program bidang sosial lingkungan. Selain itu juga, kami melakukan aksi kerja bakti di Pulau Nyamuk bersama siswa-siswi SDN 3 Parang, perlombaan kebersihan tiap rumah dan mengecat area masjid. Program terakhir adalah ekonomi kreatif yang mana kami membuat serta melakukan sosialisasi mengenai produk VCO (Virgin Coconut Oil) dan Manisan Mangga. Program ini juga kami laksanakan karena di Pulau Nyamuk memang banyak terdapat pohon kelapa dan pohon mangga. Kami berharap kelak Warga Pulau Nyamuk dapat berkreasi dengan bahan-bahan yang tersedia disana.

KESERUAN MENGEKSPLOR PULAU NYAMUK

Ekspedisi yang diselenggarakan oleh Kemenko Maritim ini selain bertujuan untuk menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tapi juga bertujuan untuk menyadarkan pemuda bahwa Indonesia merupakan negeri yang indah alamnya dan kuat dari segi kemaritimannya. Maka dari itu, disela-sela kepadatan kami berprogram kami juga menyempatkan diri untuk menikmati keindahan Pulau Nyamuk. Hampir setiap sore kami menikmati sunset sambil berenang di Dermaga Barat Pulau Nyamuk. Karangnya sangat indah dan masih terjaga, ikan berbagai jenis masih dapat kami lihat berenang bebas. Berbeda dengan ikan air tawar, ikan laut memiliki warna, motif dan bentuk yang lebih variatif. Hal itu membuatnya sangat menarik untuk dilihat. Kerap kali sampai matahari berwarna oranye terlihat atau suara adzan maghrib terdengar, kami baru akan pulang ke rumah masing-masing.

menikmati sunset di Dermaga Pulau Nyamuk

Kami berkesempatan untuk mengelilingi dan mengeksplor Pulau Nyamuk dengan berjalan maupun  menaiki sampan yang didayung sendiri. Bahkan kami beberapa kali mencoba untuk memancing hanya dengan bermodalkan benang, kail dan ikan mentah sebagai umpan. Tak perlu jauh-jauh untuk memancing, di Dermaga Barat pun sudah cukup untuk sekedar mencoba sensasi mancing di laut karena disekitar jembatan dermaga masih banyak ikannya. Kami juga sempat berkeliling mencari spot foto di Pantai Timur dan Selatan Pulau Nyamuk. Tak perlu waktu lama dari pemukiman untuk sampai ke dua tempat tersebut dan alhasil kami mendapatkan yang kami inginkan. Kami dapat spot foto yang bagus dan kepuasan tersendiri ketika merasakan dan melihat indahnya pesona alam di Pulau Nyamuk.

Di gugus Kepulauan Karimun ada banyak pulau yang tak berpenghuni, salah satunya adalah Pulau Katang. Karena kebaikan warga Pulau Nyamuk, kami diantar secara cuma-cuma sampai ke Pulau Katang yang berjarak 20 menit dengan menaiki perahu yang berukuran tak begitu besar. Hal itu karena masih banyak karang besar yang menonjol ke permukaan air di sekitar sana. Masih belum banyak penanda zona karang disana sehingga untuk mecegah tabrakan dengan karang, nahkoda kapal butuh “joki parkir” untuk bisa merapat Pulau Katang. Dan ternyata memang luarbiasa! Pasirnya putih, airnya jernih kebiruan dan ikannya masih sangat banyak. Hal menakjubkan lainnya adalah Pulau Katang merupakan pulau terakhir di gugusan Pulau Karimun yang mengarah langsung ke Laut Jawa. Sehingga ombak laut lepas pun dapat kami nikmati dari bibir pantai. Kami dapat mengelilingi keseluruhan Pulau Katang hanya dengan waktu 40 menit karena ukuran pulau yang memang kecil.

Selain mengeksplor tempat disana, kami juga mengeksplor makanan yang ada disana. Kami saling mengunjungi rumah singgah satu sama lain untuk mencicipi setiap masakan yang dibuat oleh warga. dan masakan disana memang sangat enak rasanya. Berbagai olahan ikan disajikan disana mulai dari ikan kakap bakar, ikan poge panggang, tongkol goreng, kepiting saus tiram sampai opor kerang laut sudah kami coba. Dan yang jadi masakan khas disana adalah ikan bakar bumbu serepeh yang rasanya sangat enak dengan paduan kunyit dan bumbu khas lainnya. Jika kehausan atau butuh pengganjal perut ketika berkeliling di Pulau Nyamuk, disana tersedia banyak warung rumahan yang menjual minuman seduh dingin hanya dengan harga 1.000 rupiah. Ada juga warung yang berjualan mie ayam, bakso, aneka gorengan dan juga cemilan-cemilan kecil lainnya. Harganya murah dan cukup untuk hanya sekedar melepas dahaga atau mengganjal rasa lapar.

KERAMAHAN MASYARAKAT PULAU NYAMUK

Sosialisasi kepada Warga Pulau Nyamuk

Yang sangat kami apresiasi dari Warga Nyamuk adalah keramahan mereka. Mereka tak ragu menyapa ketika bertemu kami yang notabenenya orang baru. Mereka juga tak sungkan untuk berbagi cerita tentang apapun yang ada di Pulau Nyamuk. Ketika ditanya, mereka akan mencoba memuaskan orang yang bertanya dengan jawaban yang jelas dan raut wajah penuh atensi . Tak jarang ketika kami sedang berjalan untuk menuju suatu tempat, kami ditawari untuk mampir dan disuguhi beraneka makanan yang mereka punya. Mereka melakukan itu tanpa berharap imbalan. Mereka hanya menginginkan nama Pulau Nyamuk selalu dikenang dan diingat dengan kesan baik oleh setiap orang yang pernah menginjakkan kaki disana. Jadi dapat kami simpulkan bahwa meskipun mereka kalah dari segi geografis, pendidikan dan perhatian dari pemerintah, rasanya penduduk kota harus banyak belajar dari mereka tentang apa itu artinya hormat satu sama lain, ikhlas menolong tanpa pamrih juga adab yang mereka jaga terhadap sesama manusia maupun alam yang mereka tempati.

PERPISAHAN YANG MENGHARUKAN

Keluarga Bapak Rosidi

Saat itu adalah Sabtu pagi tanggal 29 September 2018, saat dimana mata terbuka dan sadar bahwa kontrak kami tinggal disana hampirlah habis. Bagaimana mungkin bisa dengan mudah meninggalkan tempat yang sudah membuat kami sangat merasa nyaman. Di pagi hari itu kami menikmati santapan terakhir bersama dengan keluarga, ya satu keluarga secara utuh yang meskipun baru kami kenal selama delapan hari, namun sudah sangat dapat kami rasakan kehangatan didalamnya. Mungkin tidak akan ada lagi yang membuatkan untuk kami ikan bakar bumbu serepeh atau mengajak kami ngobrol sampai larut sambil membuat pasak-pasak kapal  di belakang rumah. Waktu memang terasa sangat cepat dan saatnya kami berpisah. Pak Rosidi berbisik di dermaga mengatakan, “sudah ya zian, jangan pikirin Nyamuk terus nanti. Belajar aja dulu yang bener, nanti kesini lagi yaa.” Seketika nafas mulai terasa sesak. Dermaga mulai dipenuhi tangisan haru dari warga maupun ekspeditor. Kapal mulai berjalan dan saling melambaikan tanganlah yang dapat kami lakukan.

Kami pun pulang ke Bandung, dan kembali melanjutkan aktivitas rutin kami di Bandung. Kami hanya bisa berharap kelak Pulau Nyamuk dapat mengambil peran untuk mengembangkan layar dalam membangun Indonesia ini sampai ke puncak kejayaan.

Salam Ekspedisi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here